Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai ghibah, kali ini akan dijelaskan apa saja sih faktor-faktor pendorong ghibah itu. silahkan dibaca!!!

Faktor pendorong ghibah.

Diantara penyebab orang berbuat ghibah adalah :

Sebagai pelampiasan kemarahan.

Dalam keadaaan marah, kebanyakan manusia kehilangan kontrol akan akal sehatnya. Tak jarang orang yang marah berbuat sadis serta ghibah kepada orang yang dibencinya.

Untuk mengobati hal ini hendaklah dia ingat firman Alloh Subhanahu Wata’ala.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang tertawa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. “(QS. Ali Imron [3]: 133-134)

Oleh karena itu itu rosululloh Salallohu Alaihi Wasalam bersabda :

“Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka pada Hari Kiamat nanti Alloh akan memanggilnya dihadapan semua makhluk hingga Alloh memberinya pilihan bidadari yang dia inginkan sesukanya.” (HR. Abu Dawud)

Berbasi-basi dan mencocoki teman dalam bergaul.

Ketika seseorang nimbrung bersama teman dekatnya dan di majelis tersebut ada ghibah, terkadang muncul perasaan canggung untuk mengingkari atau memotong ucapannya. Dia takut akan ocehan teman-temannya. Akhirnya diapun berubah status yang tadinya berperan sebagai “setan bicara” yang ikut menyebarkan kemungkaran. Inilah keadaan kebanyakan kita.

Ingin meninggikan dirinya dengan cara merendahkan orang lain.

Termasuk dari kesombongan adalah tidak mau mengakui bahwa banyak orang lain yang lebih utama dari dia dalam ilmu, akhlaq maupun ibadahnya. Oleh karena itu, Alloh Subhanahu Wata’ala  berfirman seraya menasihati orang yang berilmu:

“Dan diatas setiap orang yang berilmu itu masih ada yang lebih pandai. “(QS. Yusuf [12]: 76)

Akhirnya rasa tinggi hati dalam diri seseorang tersebut membuat ia mengghibah saudaranya. Misalnya dengan mengatakan, “Si Fulan hanya menang semangat tapi ilmunya gak ada.” Dengan tujuan mengangkat dia didelpan orang lain biar dikatakan lebih hebat dan berilmu. Banyak sekali tipe orang seperti ini yaitu tipe orang yang tega menjegal saudaranya sendiri dengan ghibah demi sanjungan dan popularitas semu yang akan layu ditelan waktu.

Banyaknya waktu luang dan kebosanan.

Penyebab terbesar kerugian pada diri seseorang adalah waktu luang yang disia-siakan. Oleh karena itu, banyak sekali dalam al-Qur’an Alloh Subhanahu Wata’ala bersumpah demi waktu. Bahkan, Rosululloh Salallohu Alaihi Wasalam juga mengingatkan:

“Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai dan lupa padanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhori)

Betapa banyak waktu luang menjadi ajang ngerumpi dan mengghibah tanpa dia sadari. Seolah mereka merasakan betapa lezatnya memakan daging bangkai saudaranya yang dibumbui setan dengan dusta. Sungguh rugi sekali orang yang punya waktu luang digunakan untuk ngerumpi dan mengghibahi saudaranya tiada henti. Oleh karena itu hendaknya seorang Muslim mengingat lima sebelum lima. Satu diantaranya mengingat waktu luang sebelum sempit tiba sehingga ia tidak gunakan waktu luangnya untuk ghibah yang amat hina.

Mencari muka di depan atasan.

Demi mendapat pujian atasan, seseorang rela menyikut dan menjatuhkan sesama teman. Untuk mencari sanjungan atasan, seseorang berani mengghibah saudaranya di hadapan bosnya. Tujuannya tidak lain untuk mencari muka di depan atasannya agar dia naik jabatan atau pangkatnya. Atau agar dia disebut lebih utama daripada saudaranya. Orang seperti ini adalah orang yang mencari ridho manusia tetapi dengan kemurkaann Alloh Subhanahu Wata’ala. Rosululloh Salallohu Alaihi Wasalam bersabda:

“Dan barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan kemurkaan Alloh akan menyerahkan urusannya kepada manusia.” (HR. at-Tirmidzi)

Ujub (bangga terhadap diri sendiri) dan lupa terhadap kekurangan diri sendiri.

Ujub adalah sikap menganggap diri sendiri mempunyai hak terhadap Alloh Subhanahu Wata’ala  dan makhluk dibanding dengan orang lain. Perbedaanya dengan sombong adalah ujub bisa muncul walaupun seseorang dalam keadaan sendiri, karena dia merasa sempurna dan lebih dari orang lain. Adapun sombong adalah sifat yang dilahirkan dari rasa ujub yang dimunculkan pada orang lain.

Oleh karena itu, seseorang hendaknya sibuk mengoreksi kesalahan diri sendiri. Orang yang pekerjaannya mengghibahi orang lain adalah orang yang tidak melihat aibnya sendiri. Dia melihat dirinya seolah sempurna tanpa kesalahan. Bahkan kesalahan orang lain yang sekecil semut padahal jauh tampak jelas dimata dia. Sementara kesalahan sendiri yang besar dan di depan mata tidak tampak. Maka benarlah peribahasa “Kuman di seberang lautan tampak dan gajah di pelupuk mata tidak tampak”. Itulah perumpamaan orang yang suka mengghibahi orang lain tanpa melihat aib dirinya sendiri.

Bercanda.

Banyak sekali orang bercanda dengan mengghibahi saudaranya. Dengan candanya, ia membeberkan semua aib temannya. Terkadang sampai orang yang dicandai merasa malu dan terpojok. Bahkan lebih dari itu. Ia merasa dilecehkan dan dipermalukan di depan orang lain.

Sebenarnya bukannya canda itu haram dan tidak boleh. Dibolehkan canda, asalkan tidak ada unsur ghibah dan pandai dalam mengemas dan menempatkannya. Memang jauh sekali canda kita dengan canda Rosululloh Salallohu Alaihi Wasalam. Canda-canda beliau Salallohu Alaihi Wasalam adalah canda yang benar yang menghibur dan memberikan kebahagiaan kepada yang dicandai. Bukan canda-canda ghibah yang tak bermutu dan tabu, melainkan canda yang bersumber dari ilmu dan bukan sekedar mengisi waktu saat jemu.

Hasad (iri hati).

Inilah salah satu penyebab utama orang melakukan ghibah. Ketika orang lain mempuinyai kelebiha yang tak ada pada dirinya, maka si pengghibah mulai menyebar gosip tentang kejelekan orang tersebut hilang atau pindah kepadanya. Padahal ghibah tersebut tidak mempengaruhi nikmat Alloh Subhanahu Wata’ala padanya. Akan tetapi, karena kebusukan jiwa dengan ghibahbya seolah-olah dia protes kepada Alloh, “Ya Alloh kenapa engkau beri nikmat tersebut kepada fulan dan bukan kepadaku?” Sungguh ini merupakan kelancangan kepada Alloh Subhanahu Wata’ala.

Ghibah yang Diperbolehkan

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rohmatulloh mengatakan didalam kitab Tafsir beliau, “Ghibah itu haram berdasarkan kesepakatan (kaum Muslimin). Dan tidak dikecualikan darinya satu bentuk ghibah pun kecuali apabila terdapat maslahat yang lebih dominan sebagaimana dalam konteks jarh dan ta’dil (celaan dan pujian yang ditujukan kepada periwayat hadits dan semacamnya –pent) serta demi memberikan nasihat. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh beliau Salallohu Alaihi Wasalam ketika ada seorang lelaki bejat yang meminta izin untuk bertemu dengan beliau. Beliau Salallohu Alaihi Wasalam bersabda, “Ijinkan dia masuk. Dia adalah sejelek-jelek kerabat bagi saudara-saudaranya.”

Imam an-Nawawi Rohmatulloh menjelaskan bahwa ghibah dibolehkan karena adanya tujuan yang dibenarkan oleh syariat yang tidak mungkin tujuan itu tercapai kecuali dengan menempuh cara ini. Ghibah yang dibolehkan ini ada enam sebab:

Mengadukan kezholiman kepada penguasa dan hakim.

Dalilnya adalah apa yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Rodhiallohuanha, dia berkata: “Berkata Hindun istri Abu Sufyan Rodhiallohuanhu kepada Nabi Salallohu Alaihi Wasalam: “Sesungguhnya dia tidak memberiku harta yang bisa mencukupi dan anakku, kecuali jika saya mengambil darinya tanpa sepengetahuannya.” Maka beliau Salallohu Alaihi Wasalam bersabda:

“Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf.” (HR. al-

Bukhori dan Muslim)

Dan juga berdasarkan hadits dari Abu Huroiroh Rodhiallohuanhu ia berkata: “Seseorang berkata: “Wahai rosululloh, sesungguhnya saya memiliki tetangga yang suka menyakitiku. Maka beliau Salallohu Alaihi Wasalam berkata:

“Pergilah lalu keluarkanlah barang-barangmu ke jalan!”

Maka dia pun pulang dan mengeluarkan barang-barangnya ke jalan, maka manusia pun bertanya: “Kenapa dengan engkau?” Dia menjawab: “Saya memiliki tetangga yang suka menyakitiku, lalu saya menceritakannya kepada Nabi Salallohu Alaihi Wasalam kemudian beliau Salallohu Alaihi Wasalam berkata kepadaku: “Pergilah lalu keluarkanlah barang-barangmu kejalan!” maka merekapun mengatakan: “Ya Allloh, laknatlah orang itu, ya Alloh, hinakanlah dia.” Maka hal tersebut sampai kepada tetangganya tersebut, maka dia pun mendatanginya lalu mengatakan: “Kembalilah ke rumahmu, demi Alloh saya tidak akan menyakitimu lagi.”

Meminta fatwa

Seperti dengan mengatakan kepada seorang mutfi (ahli fatwa): “Suamiku telah menganiayaku.” Atau “Temanku telah mendzolimiku.” Atau “Tetanggaku telah menipuku.” Meskipun tindakan yang lebih baik dan berhati-hati ialah dengan mengatakan: “ Bagaimana pendapat anda terhadap orang yang melakukan perbuatan demikian dan demikian (tanpa menyebut namanya)?”

Meminta bantuan orang demi mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat agar kembali kepada kebenaran.

Seperti dengan mengatakan: “Si Fulan telah melakukan kemungkaran maka cegahlah dia dari perbuatan itu!” atau ungkapan semisalnya. Tujuan dibalik pengaduan itu adalah demi menghilangkan kemungkaran. Kalau dia tidak bermaksud demikian, maka hukumnya tetap haram.

Memperingatkan kaum Muslimin dari kejelekan sebagian orang dan dalam rangka menasihati mereka.

Seperti mencela para periwayat hadits dan saksi yang tidak adil dan jujur, hal ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Bahkan hukumnya wajib karena kebutuhan umat terhadapnya. Imam Ibnu Katsir Rohmatulloh mengatakan, “Berbicara tentang cela orang-orang (semacam para periwayat hadits) dalam rangka nasihat untuk membela agama Alloh Subhanahu Wata’ala, Rosul dan Kitab-Nya serta untuk menasihati kaum mukminin bukanlah termasuk ghibah, bahkan pelakunya akan mendapat pahala apabila dia memiliki maksud yang tulus seperti itu.”(kitan Al-Baa’itsul Hadits)

Adapun membicarakan aib para dai yang menyeru kepada Islam yang murni dan menjauhi kebid’ahan dalam agama maka hal tersebut termasuk ghibah yang haram.

Menyebutkan kejelekan pelaku maksiat yang terang-terangan dalam melakukan dosa atau bid’ahnya dan tidak menyebutkan aib yang lain.

Seprti orang yang meminum khamr di depan khalayak, melakukan penyembahan terhadap hewan dan pohon, pacaran dipinggir jalan, merampas harta secara paksa dan sebagainya, dengan syarat kejelekan yang disebutkan adalah yang terkait dengan kemaksiatannya tersebut dan bukan yang lainnya.

Untuk memperkenalkan jati diri seseorang.

Seperti contohnya adalah apabila ada orang yang lebih populer dengan julukan al-A’roj (yang pincang), al-Ashamm (yang tuli), al-A’ma (yang buta) dan lain sebagainya. Akan tetapi hal ini diharamkan apabila diucapkan dalam konteks penghinaan atau melecehkan. Seandainya ada ungkapan lain yang bisa dipakai untuk memperkenalkannya maka itulah yang lebih utama.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Ghibah yang Diperbolehkan

Ikhlas di dalam niat hanya karena Alloh Subhanahu Wata’ala.

Siapa saja yang menyebutkan keadaan seseorang, dia tidaklah menyebutkannya dalam rangka menghilangkan kemungkaran tetapi untuk mencelanya atau menunjukkan kekurangannya, maka hukumnya haram dan berdosa. Contohnya adalah jika seseorang yang meminta pertimbangan orang lain dalam urusan pinangan, lalu dia menceritakan keadaan seseorang tersebut bukan untuk menunjukkan kebenaran tetapi hanyalah karena kedengkian dari dirinya yang disebabkan perbedaan tempat kajian atau perbedaan madzhab sehingga orang tersebut tidak disetujui oleh pihak gadis, maka hal ini haram dan model yang seperti ini banyak.

Hendaklah hanya menyebutkan apa yang ada pada saudaranya sesuai kebutuhan.

Dengan catatan yang demikian itu dapat mewujudkan kemaslahatan yang pasti. Dan dijauhi membuka pintu untuk menyebutkan semua aib yang lain.

Dipertimbangkan dengan matang dan yakin bahwasanya di balik ghibah tersebut tidak akan timbul kerusakan yang lebih banyak dari faedahnya dan tidak akan terjadi fitnah yang membahayakan kaum Muslimin.

Keburukan-Keburukan Di dalam Bermudah-Mudahan Mengghibahi Orang yang Bermaksiat

Menghalangi dari petunjuk dan tidak diterimanya nasihat serta kebencian terhadap para dai penyeru ke jalan Alloh Subhanahu Wata’ala.

Ghibah ini sangat disayangkan kebanyakan yang terjadi justru berasal dari orang-orang yang biasa memakmurkan masjid dan para dai penyeru ke jalan Alloh Subhanahu Wata’ala, jadi ketika mereka melihat salah seorang yang biasa melakukan kemaksiatan, mereka segera mencacinya, apakah dia seorang yang biasa meninggalkan sholat atau puasa atau yang semisalnya, dan mereka orang-orang yang suka bermaksiat ini setelah mereka mendengar bahwa mereka dighibahi, maka mereka menyatakan kebencian dan kemarahan meraka dengan terang-terangan terhadapa orang-orang yang mengghibahi mereka, dan mereka dengan jelas menyatakan ketidakpercayaannya kepada mereka.

Sesungguhnya yang sepantasnya bagi para dai penyeru ke jalan Alloh Subhanahu Wata’ala dan orang-orang yang biasa memakmurkan masjid serta orang-orang yang selalu terikat dengannya, untuk melihat orang-orang yang suka bermaksiat itu dengan pendangan kasihan dan kelembutan serta hendaklah mereka bersemangat untuk mendakwahi mereka dengan empat mata disertai hikmah dan nasihat yang baik, mudah-mudahan mereka mendapat hidayah. Berapa banyak orang-orang musyrikin dan orang-orang kafir serta orang-orang yang suka bermaksiat yang dulunya mereka melakukan kerusakan dimuka bumi, lalu Alloh Subhanahu Wata’ala memberi mereka hidayah kemudian mereka menjadi sebaik-baik manisia dan yang terbaik akhlaknya, dan sejarah menjadi saksi atas hal ini tersebut bersamaan dengan berjalannya waktu menjadi saksi atas hal tersebut.