Bab 1. Pengertian Iman

Secara bahasa al-iman adalah at-tashdiiq yaitu pembenaran. Sedangkan secara istilah, menurut ahlus sunnah, al-iman adalah pembenaran di dalam hati, ikrar dengan lisan, dan beramal dengan anggota tubuh.

Pengertian ini adalah madzhabnya Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Al-Auza’i, Al-Imam Ishaq bin Rohuyah, seluruh imam ahlul hadits, ahlul Madinah, dan jama’ah dari ahlul kalam.

Al-Allaamah Muhammad Kholil Haros (w.1975 M) mengatakan, ‘Dan ketiga unsur ini masuk dalam penamaan al-iman al-muthlaq. Maka al-iman al-muthlaq ini masuk di dalamnya seluruh ajaran islam, baik dzohir maupun batin, pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, maka tidak berhak terhadap nama al-iman al-muthlaq ini kecuali orang yang menggabungkan seluruh ajaran Islam tersebut dan tidak menguranginya sedikitpun’.

Makna ini sebagaimana ditunjukkan dalam firman Alloh Ta’ala :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”. (Al-Anfal:2-4)

Al-Imam Ibnu Katsir (w.774 H) mengatakan, ‘Telah berkata Ali bin Abu Tholhah, dari Ibnu Abbas, firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka”, dia berkata : Orang-orang munafiq tidak masuk sesuatupun dalam hati mereka dari dzikir kepada Alloh ketika menunaikan kewajiban-kewajibannya, tidak beriman sedikitpun dari ayat-ayat Alloh, tidak bertawakkal, tidak melaksanakan sholat ketika mereka tidak bersama manusia, tidak menunaikan zakat harta-harta mereka, maka Alloh Ta’ala mengkabarkan bahwa mereka bukanlah orang-orang yang beriman, kemudian Alloh mensifati orang-orang yang beriman dengan firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka”, maka mereka menunaikan kewajiban-kewajibannya.

Kewajiban-kewajiban kepada Alloh Ta’ala ini ada yang bersifat keyakinan hati dan ada yang besifat amal perbuatan. Dalam surat Al-Anfal ayat 2 sampai 4 di atas terdapat keduanya. Keyakinan hati berupa takut pada Alloh, pembenaran, dan tawakkal kepada-Nya. Keyakinan ini akan melahirkan perbuatan nyata, yang dicontohkan dalam ayat-ayat di atas adalah dengan melakukan sholat dan mengeluarkan zakat. Namun kewajiban berupa amal bukan hanya sholat dan zakat saja, akan tetapi seluruh syari’at Islam adalah kewajiban yang harus ditunaikan sebagaimana Alloh Ta’ala jelaskan dalam surat Al-Mu’minun dari ayat ke-1 sampai ayat ke-10. Maka menjadi mukmin yang sesungguhnya tidaklah semudah pengakuan seperti pengakuan kebanyakan manusia.

Alloh Ta’ala menolak ketika orang-orang arab badui mengatakan bahwa mereka beriman hanya karena awal keislaman mereka.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Alloh dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurot : 14)

Di dalam ayat di atas pengakuan orang-orang badui tersebut tidak diterima oleh Alloh Ta’ala. Dan Alloh Ta’ala nyatakan : “karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. Ibnu Katsir mengatakan, ‘Kamu belum masuk dalam hakikat iman’.

Maka dalam ayat berikutnya Alloh Ta’ala jelaskan akan hakekat iman, agar mereka yang telah masuk Islam tersebut memahami dan mengerti tentang keimanan yang sesungguhnya dan bukan hanya sekedar pengakuan saja.

Alloh Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. Mereka Itulah orang-orang yang benar”. (Al-Hujurot:15)

Ibnu Katsir mengatakan, ‘Firman Alloh Ta’ala : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah …”, yaitu orang-orang yang beriman dengan sempurna’.

Di sini Alloh Ta’ala nyatakan bahwa iman itu bukan hanya pengakuan saja tapi ada dalam aplikasi yang nyata yaitu ta’at dan patuh pada Alloh dan rosul-Nya secara keseluruhan dan tidak ragu sama sekali, kemudian dituntut untuk berjihad baik dengan harta maupun jiwa. Inilah orang yang benar dalam pernyataan mereka bahwa mereka adalah orang yang beriman.

Bab 2. Bertambah Dan Berkurangnya Iman

Dengan pengertian yang telah dijelaskan di atas maka ahlussunnah menyakini bahwa iman dapat bertambah dan dapat berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiyatan.

Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa iman bertambah dan berkurang, diantaranya Alloh Ta’ala berfirman:

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. (At-Taubah : 124)

Al-Imam Ibnu Katsir berkata, ‘Ayat ini termasuk dalil yang terbesar bahwa iman itu bertambah dan berkurang, sebagaimana ini adalah madzhab kebanyakan salaf dan kholaf dari kalangan para imam ulama, bahkan telah dihikayatkan ijma’ perkara tersebut oleh lebih dari seorang ulama, permasalahan ini telah diperluas (pembahasannya) pada awal “Syarhul Bukhori” –rohimahulloh-’.

Mu’adz bin Jabal pernah berkata pada seorang laki-laki, ‘Duduklah bersama kami untuk beriman sesaat – yaitu : kita mengingat Alloh-’.

Al-Imam Abu Ubaid bin Salam (w.224 H) mengatakan, ‘Inilah pendapat yang diambil oleh Sufyan, Al-Auza’i, dan Malik bin Anas, mereka berpendapat bahwa amal kebajikan seluruhnya adalah termasuk tambahan dalam Islam karena menurut mereka seluruhnya termasuk dalam iman’. Sedangkan seluruh kemaksiyatan adalah mengurangi keimanan, Al-Imam Muslim di dalam Shohihnya membuat bab khusus yaitu “Bab Penjelasan berkurangnya iman dengan  maksiyat …” kemudian beliau membawakan hadits dari Abu Huroiroh Ra , bahwa  Rosululloh  Saw bersabda :

“Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan beriman, tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri dalam keadaan beriman, dan tidaklah meminum khomer seorang peminum ketika dia meminumnya dalam keadaan beriman”.

Al-Imam An-Nawawi (w.676 H) –rohimahulloh- berkata, ‘Hadits ini termasuk hadits yang diperselisihkan oleh para ulama tentang maknanya, maka pendapat yang shohih adalah pendapat yang dikatakan oleh para ahli tahqiq bahwa maknanya : tidaklah seseorang melakukan maksiyat-maksiyat ini dalam keadaan sempurna keimanannya, ini termasuk lafadz-lafadz yang dimutlakkan atas peniadaan sesuatu dan yang dimaksud adalah peniadaan kesempurnaannya dan terpilihnya’.

Al-Walid bin Muslim (w.194 H) berkata, ‘Saya mendengar Al-Auza’i, Malik, dan Sa’id bin Abdil Aziz, mereka mengingkari orang yang mengatakan, ‘Berikrar tapi tanpa amal’. Dan mereka mengatakan, ‘Tidak ada iman kecuali dengan amal’. Saya bekata : Barangsiapa yang ketaatannya dan kebaikannya lebih banyak maka keimanannya lebih sempurna, dan barangsiapa yang sedikit ketaatannya dan banyak kemaksiyatannya, kelalaiannya, dan berbuat sia-sia, maka imannya berkurang’.

Demikianlah iman akan bertambah dengan melakukan ketaatan pada Alloh Ta’ala, dan akan berkurang dengan kemaksiatan. Sekecil apapun kemaksiatan yang dilakukan maka akan mengurangi keimanan.

Bab 3. Tingkatan-Tingkatan Orang Yang Beriman.

Alloh Ta’ala berfirman :

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Alloh. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”. (Fathir : 32)

Di dalam ayat ini Alloh Ta’ala membagi hamba-hamba-Nya dalam tiga kategori yaitu :

Pertama : Mereka yang menganiaya diri mereka sendiri, yaitu orang yang menyepelekan sebagian kewajiban-kewajiban dan melakukan sebagian hal-hal yang dilarang.

Kedua : Mereka yang pertengahan, yaitu orang yang menjalankan kewajiban-kewajiban, meninggalkan hal-hal yang dilarang, terkadang meninggalkan sebagian hal-hal yang dicintai (sunnah), dan mengerjakan sebagian hal-hal yang dibenci (makruh).

Ketiga : Mereka yang lebih dahulu berbuat kebaikan, yaitu orang yang mengerjakan kewajiban-kewajiban dan hal-hal yang dicintai, meninggalkan hal-hal yang dilarang dan dibenci, serta meninggalkan sebagian hal-hal yang boleh (mubah).

Al-Imam Al-Bukhori menuliskan suatu bab dalam shohihnya: “Bab bertingkat-tingkatnya orang-orang yang beriman dalam amal-amal (perbuatan)”. Diantara hadits yang dibawakan oleh beliau dalam bab ini adalah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, beliau berkata, ‘Rosululloh Saw bersabda:

“Ketika saya tidur, saya melihat manusia yang diperlihatkan kepada saya, mereka memakai kain-kain, diantaranya ada yang sampai buah dada mereka, dan diantaranya ada yang sampai dibawahnya, diperlihatkan kepadaku Umar bin Al-Khottob yang mengenakan kain dan menjulurkannya”. Mereka (para sahabat) berkata, ‘Bagaimana engkau mena’wilkannya wahai Rosululloh?’ Beliau bersabda : “Ad-Dien (agama)”.