Tanpa terasa bulan Ramadhan telah berakhir, dan Idul Fitri pun baru sudah beberapa hari terlewatkan. Mungkin banyak orang yang sudah mengetahui arti dari Idul Fitri itu sendiri. Secara harfiah, Idul Fitri berarti upaya kembali kepada sesuatu yang suci. Id berarti kembali dan fitri berarti kesucian. Kesucian di sini sering dimaknai sebagai jati diri manusia yang bertakwa, sedangkan takwa dipahami sebagai menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ungkapan ini sering dianalogikan dengan kesucian seorang bayi yang baru dilahirkan. Dia bersih dari dosa-dosa.

Pertanyaannya, apa yang didapat kaum muslim selama Ramadan? Lalu bagaimana sikap atau perilaku setelah puasa?

Selama bulan Ramadan, jasmani dan rohani umat muslim telah digodok untuk beribadah dan bermuamalah secara proaktif agar menjadi manusia yang bermoral dan bertakwa. Ini berarti setelah ber-Idul Fitri, setiap orang semestinya mengalami reaktualisasi diri sebagai manusia baru yang suci. Sinyal ketuhanan dan kemanusiaannya pun tak meredup, bahkan kian kuat meski Ramadan telah lewat. Tak ada lagi selingkuh kekuasaan serta dusta atas janji-janji politik karena nafsu liar kekuasaan telah tertundukkan setelah menjalani terapi rohaniah sebulan penuh. Saat itulah berlaku makna simbolik Idul Fitri, yakni kembalinya manusia kepada fitrah.

Idul Fitri tidak identik dengan hura-hura dan kesenangan semu. Juga tidak sama dengan penghamburan uang serta pemuasan nafsu duniawi. Idul Fitri merupakan penutup dari seluruh rangkaian kegiatan Ramadan sebagai perlambang bahwa pada hari itu kaum muslimin telah berhasil memenangi pertarungan melawan hawa nafsu. Maka, sepantasnya kaum muslimin menyambutnya dengan suka cita dengan keinginan kuat untuk selalu memelihara kebersihan fitrahnya di hari-hari selanjutnya.

Tapi, harus diakui, bahwa Lebaran tahun ini tidak memenuhi hakikat yang terkandung dalam Idul Fitri. Bahkan, yang terjadi sebenarnya penyimpangan hakikat Idul Fitri karena kemenangan dan kebahagiaan yang dirasakan masyarakat itu semu. Sesaat setelah Lebaran, mereka akan merasakan penderitaan sebagaimana hari-hari sebelum Lebaran.

Hal ini disebabkan perekonomian, politik, hukum, dan perkembangan sosial di negeri ini masih memprihatinkan. Bencana masih kerap datang. Politik berselingkuh dengan hukum. Keributan baik di elite maupun di tingkat bawah selalu muncul. Mereka memunyai misi serta tujuan tertentu. Pada saat masih terlanda situasi yang kurang menguntungkan, rasanya semua patut menahan diri menjaga emosi agar tidak terpancing pihak yang akan memanfaatkan.

Idul Fitri sebagai momen kembalinya seseorang ke makna fitrah hendaknya diikuti dengan tindakan reformasi diri. Keagungan Tuhan selalu diingat dan dimaknai dalam kehidupan nyata. Bukan simbolisme dan formalisme ibadah yang justru makin menggali jurang lebar antara si miskin dan kaya. Idul Fitri merupakan hari kebersamaan. Dengan begitu, sesungguhnya manusia tidak selayaknya dan tidak berhak menciptakan primordialisme dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, seharusnya masyarakat Indonesia lebih mudah dalam memaknai dan mengimplementasikan isi Ramadan dan Idul Fitri. Idul Fitri sudah kita rayakan 67 kali semasa bangsa ini menikmati kemerdekan. Namun, bisa dibayangkan, secara individu maupun sebagai bangsa, kualitas hidup kita masih jauh dari harapan. Perilaku individu dan sebagian besar pemimpin masih jauh dari harapan. Detik demi detik selalu terdengar merebaknya kemiskinan, kebodohan, kriminalitas, intimidasi, korupsi, dan berbagai ketidakadilan di segala bidang.

Para pemimpin bangsa justru lebih disibukkan untuk memikirkan eksistensi politik dan kekuasaan ketimbang memikirkan rakyat yang selalu dalam kesulitan. Memikirkan pendanaan partai politik lebih penting ketimbang membangun infrastruktur maupun perekonomian untuk rakyat. Pertentangan-pertentangan terus dipertontonkan di hadapan rakyat yang seharusnya tidak perlu karena hanya menghabiskan energi.

Perubahan

Idul Fitri juga harus dijadikan spirit perubahan. Dalam konteks ini, pemerintah harus menjadikannya tidak hanya sebagai komoditas politik dan ekonomi. Lebih dari itu, Idul Fitri sebagai pertanggungjawaban publik untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan umum yang memihak rakyat. Jangan masyarakat menyambut Idul Fitri dengan tangisan dan kesedihan, tetapi kebahagiaan terutama untuk masyarakat yang tidak mampu. Dengan demikian, perayaan seharusnya menjadi momentum mengubah kondisi objektif masyarakat dari kemelaratan menuju kebahagiaan.

Di sinilah, lebaran harus benar-benar digunakan sebagai titik untuk menggugah kesadaran para pemimpin dan elite bangsa tentang pentingnya mengikis penderitaan menuju kemenangan dan kebahagiaan. Perubahan bukan sekadar karitatif dan sloganistik, tetapi sistemik dan praksis. Tindakan Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006 asal Banglades, patut diteladani. Dia lahir dan hadir untuk mengubah hidup orang-orang miskin.

Para elite nasional didesak bersikap kooperatif, sinergis, tegas, dan berani mengambil keputusan demi kepentingan rakyat. Perlu ada perubahan besar dan komprehensif untuk mengatasi akar persoalan-persoalan hukum, kesejahteraan, sosial-ekonomi, dan demokrasi. Perubahan secara tambal sulam hanya menjadi fenomena gunung es dan tidak menyentuh akar masalah sesungguhnya.

Jika para pemimpin dan elite bangsa benar-benar khusyuk menjalani puasa tentunya hasilnya terlihat setelah Idul Fitri. Paling tidak, mereka mampu berpolitik sehat, menjaga moralitas, menjunjung tinggi hukum, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi serta golongan. Selain itu, kaum muslim mampu memahami hakikat makna demokrasi yang elegan. Bukan demokrasi yang penuh intrik, manipulasi, persaingan kasar, dan politik uang.

Bangsa akan maju dan mampu keluar dari krisis jika mampu mengubah kondisi objektif masyarakat yang melarat dan menderita bangkit. Apabila Muhammad Yunus bisa, mengapa para pemimpin dan elite bangsa ini tidak? Pemimpin harus dapat merasakan penderitaan masyarakat.

Para pemimpin dan elite bangsa harus mau membuka mata dan nurani untuk melihat penderitaan rakyat dan mengubahnya ke tahap lebih baik. Lebaran merupakan momen yang tepat untuk merefleksikan pembawaan diri secara personal dan kolektif kebangsaan. Dari sini, diharapkan tumbuh tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang menggunung lewat transformasi spiritual kefitrahan.

Para pemimpin bangsa yang telah “bertempur” selama Ramadan mampu mengimplementasikan sikapnya setelah Idul Fitri. Mereka kembali bersatu menentukan arah dan bekerja keras demi mewujudkan negeri yang adil dan makmur.